Sebelum Berbisnis…

Saya kapok deh..

Dulu saya suka ngompor-ngomporin temen, mending wirausaha daripada jadi pegawai. Gara-gara itu sekarang yang bisnis sendiri malah jadi ngetren, jadinya banyak saingan dan nggak ada yang mau kerja sama saya. Sekarang saya harus ngompor-ngomporin temen-temen saya untuk jadi pegawai.😀

Nggak lah..

Sebenernya apapun pekerjaan kita tergantung tujuan kita. Tujuan kita apa?

Pernah ada yang nanya kepada Rasulullah,

mata pencaharian (kasb) apa yang paling baik (thayyib/berkah/halal)?

Perhatikan deh, sahabat bertanya tentang “pekerjaan yang paling berkah”, kok nggak “pekerjaan yang paling besar gajinya”, atau “pekerjaan yang paling bergengsi”. Mungkin kalau Rasulullah hidup di jaman sekarang bakal ada yang nanya: “mending swasta atau BUMN?” *eh. Sudah jelas seorang muslim tujuan bekerja yang paling utama adalah untuk mencari keberkahannya, bukan mencari penghasilan yang banyak. Karena penghasilan yang banyak belum tentu barokah.

Lantas apa jawaban Rasulullah tentang pekerjaan yang paling berkah? Rasulullah bersabda:

Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri, dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad)

Nah.. Sebelum berbisnis, kita perlu meluruskan pandangan. Apa aja? Pertama kita harus yakin rezeki dijamin oleh Allah

Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Ini yang perlu ditanam di hati, yakinlah seyakin-yakinnya Allah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Kalau rezeki sudah ditanggung oleh Allah, ngapain bekerja yang tidak halal?

Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu datang terlambat, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.” (HR. Abdur-Razaq, Ibn Hibban, dan Al-Hakim)

Seperti yang tadi dikatakan, bagi seorang muslim tujuan bekerja yang paling utama adalah untuk mencari keberkahan. Karena keuntungan di akhirat tidak akan sebanding dengan keuntungan di dunia. Ibarat permata dengan barang tak berharga. Terus bekerja dengan orientasi akhirat itu apa sik? Ya banyak, misalnya karena ingin menafkahi keluarga, ingin menafkahi saudara yang tidak mampu, ingin berhaji, ingin bersedekah, dsb.

Ada seorang ulama ahli hadits yang bernama Abdullah bin al-Mubarak. Suatu hari ditanya oleh Fudhail bin Iyadh, “Engkau selalu mengajari kami zuhud terhadap dunia, tetapi aku lihat engkau sibuk berdagang di pasar-pasar.”

Abdullah bin al-Mubarak menjawab bahwa dia bersemangat berdagang karena ingin menanggung nafkah ulama-ulama ahli hadits, agar para ulama tersbut fokus mengajar ilmu hadits dan tidak sibuk bekerja. Alasannya, kalau mereka sibuk bekerja, mereka tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk mengajarkan hadits. Dan Allah membuktikan janjinya, Abdullah bin al-Mubarak justru sukses dalam berdagang, menjadi pengusaha kaya namun tetap zuhud terhadap dunia.

Juga ketika Rasulullah mewajibkan sedekah kepada setiap muslim, para sahabat langsung pergi ke pasar untuk mencari kerja, semata-mata agar mereka bisa bersedekah..

Sebelum berbisnis.. kita harus menyiapkan mental. Terkadang kita harus tutup telinga dari perkataan orang. Masyarakat masih banyak yang menilai bahwa menjadi pedagang itu “level rendahan”, khususnya bagi yang sedang baru memulai merintis usahanya. “Ih, sarjana kok jadi tukang cilok.”, “Padahal dia pinter loh, eh ujung-ujungnya jualan baju.” Suara-suara seperti ini pastinya ada. Dan menjengkelkan. Tapi yang perlu kita ketahui adalah, orang-orang seperti mereka hanya berkomentar, tapi tidak pernah peduli. Jadi ngapain kita mempedulikan komentar mereka. Toh, apapun yang kita kerjakan bakal selalu dikomentari. Kita perlu tutup telinga (pake headset), dan terus bekerja.

Sebelum berbisnis.. kita harus mengerti, apa yang akan kita jual, price or value? Sekarang kan banyak yang jual bakso boraks, sate tikus, atau ayam tiren lah, mie formalin lah, mereka itu mengejar price bukan value. Mereka nggak peduli dengan kualitas produk/kepuasan pelanggan, yang penting untungnya gede. Kembali lagi ke tadi, tujuan utama kita apa? Cari berkah atau untung gede?

Sebelum berbisnis.. kita akan nyari partner (kalau butuh). Carilah yang benar-benar seirama dengan kita. Maksudnya satu prinsip dengan kita. Akan susah jadinya kalau misalnya kita fokusnya ke value, tapi partner fokusnya ke price. Kitanya semangat, partner malas-malasan. Apalagi partner kita juga sama-sama owner dari bisnis yang kita jalani. Ribet. Mending cari yang bener-bener pas, atau nggak sekalian.

Sebelum berbisnis.. kita doa yuk, mudah-mudahan bisnis kita nanti berkah dan lancar jaya. Aamiin.🙂

“Bagi seorang muslim bisnis bukan sekedar untung-rugi, tapi surga-neraka” -mbuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s