Indonesia dan Minat Baca

Ada yang tau hari ini hari apa??

Nggak banyak yang tahu kalau hari ini 17 Mei hari buku nasional. Saya pernah baca, indeks minat baca di Indonesia menurut Unesco adalah 0,001, artinya diantara seribu orang hanya ada satu yang memiliki minat baca. Wow. Kalau dibanding negara maju, jauh. Masih beruntung Indonesia terbebas dari buta huruf, angka melek baca di Indonesia adalah 65% (walaupun nggak beruntung beruntung amat).

Masyarakat lebih cenderung kepada budaya mendengar daripada budaya membaca. Membaca ya seperlunya aja. Baca pengumuman, baca sms, baca lowongan kerja, baca tagihan listrik, baca diskon harga. Baca buku? Males deh. Nggak usah jauh-jauh ke pedalaman yang primitif deh, liat aja deh di lingkungan sekolah, kampus, hitung deh temen-temen kamu yang hobi baca. Berapa? Bisa dihitung jari kan? (seratus juga bisa dihitung jari, kalo niat)

Kalo saya liat sih pas SMA, kebanyakan siswa belajarnya bergantung dari apa yang guru ajarin di kelas. Kalau pas fokus ya materinya nempel, kalau nggak beruntung yaa..tau sendiri lah. Saya sendiri orang yang jarang merhatiin guru (karena sibuk merhatiin dia, *eh), saya lebih suka baca bukunya dan belajar sendiri.

Sama juga waktu kuliah. Yang suka baca buku, atau yang baca textbook mata kuliah deh bisa dihitung jari. Kalo diliat-liat banyaknya yang kerjaannya ngerjain tugas, tugasnya ngegambar, referensinya gambar, teorinya nggak usah pake teori tinggal nyontek punya temen. Atau ngitung, dasar teorinya nggak tau, persetan, minta template excel ke temen, masukin angka, jadi, ditanya dosen nggak tau apa-apa jawabnya “ngopi punya temen pak!”. #gebrakmeja. Mau ujian, latihan soal dari tahun sebelumnya. Book?? Hell no..

Sebenernya sih minat baca itu tumbuh saat kita masih kecil. Kalo dari kecil udah minat baca insya Allah pas gedenya demen mancing (apa hubungannya?). Orangtua saya kalau di rumah sering baca juga, waktu saya kecil saya suka penasaran sebenernya mereka lagi ngapain sik? Terus waktu itu kakak saya langganan majalah Bobo (info: Bobo sama Gadis adalah majalah yang paling mahal :p). Saya sering banget minta orang-orang di keluarga saya bacain itu majalah, karena saya nggak bisa baca. Sampe pembantu saya akhirnya nggak sanggup dan pulang ke kampung😀 (kalo dipikir-pikir zalim juga saya yak)

Nah, problemnya sekarang anak-anak kecil dituntut untuk bisa membaca sedini mungkin, tapi nggak pernah diarahkan untuk menumbuhkan minat membaca si anak. Sekarang anak-anak pinter-pinter, tiga tahun empat tahun udah bisa baca, tapi masa iya jadi gemar membaca? Ngajarin orang baca mah gampang, asal ada yang ngajar. Coba anak SD disuruh gurunya bacain satu paragraf di bukunya, mungkin dia bakal lancar bacanya. Tapi apakah dia ngerti?

Kalau di negara maju, hitungannya bukan tentang angka buta huruf atau minat membaca lagi, mereka sudah lebih jauh ke intensitas membaca, jumlah buku yang dibaca per hari, keefektifan membaca, dsb. Serendah-rendahnya pendidikan, kalau aktif membaca pasti nggak bakal bodo bodo amat. Buku itu gudang ilmu, dan ilmu itu nutrisi bagi jiwa, dan dia nutrisi bagi hatiku. *eh

Oke, jadi gimana caranya meningkatkan minat baca di masyarakat? Ada yang punya usul?

Saya sih usul,, sebaiknya saya dan dia berkeluarga kemudian punya anak-anak yang gemar membaca. *eh

*semoga dibaca calon mertua😀

Aku rela dipenjara asalkan bersama buku. Karena dengan buku, aku bebas..” –Mohammad Hatta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s