“Just Married” vs “Just Friend” vs “Just Bieber”

[’Just married’itu lebih menyakitkan daripada ‘just friend’]. Well, itu adalah tema kehidupan saya akhir-akhir ini. Sejak beberapa bulan ke belakang saya memang diliputi kegalauan dan kebambangan, percaya atau tidak ternyata kegantengan saya bukan jaminan keberhasilan dalam masalah cinta.. “Kenapa kang?? Ditolak? Putus?” begitulah pertanyaan temen-temen kepada saya. Begini ceritanya, enam tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang gadis. “Sama siapa?? Justin Bieber??” (Walaupun ada di judul, Bieber nggak ada hubungannya sama tulisan ini). Cantik? Ya not bad lah, daripada ganteng. Awalnya sih perasaan saya biasa aja. Tapi satu tahun kemudian semuanya berubah saat negara api menyerang.. Saya merasakan hal yang berbeda. Jatuh cinta? Mungkin..

Kemudian saya tidak lagi sering bertemu dengannya, karena saya harus merantau ke luar nagreg untuk menyelesaikan pelatihan saya menjadi Avatar dengan menguasai empat elemen, yaitu air, tanah, struktur, dan transportasi. Walaupun begitu saya tetap menjalin komunikasi dengannya walaupun tidak sering. Ya paling sebulan sekali lah saya nanyain kabarnya. Karena belajar dari pengalaman, saat awal-awal saya suka sama dia, saya terlalu sering ngesms. Dalam sehari saya ngesms dua puluh, tapi dia cuma ngebales sekali doang, itu pun setelah dua kali 24 jam. Sedih banget ya.. Nggak kok, saya orangnya sabar (padahal selama nungguin balesan itu harap harap cemas nyampe keringet dingin, mondar mandir di depan kantor polisi, ngurek ngurek tong sampah, dan perilaku aneh saya yang lainnya)

Seiring berjalannya waktu, saya jadi lebih perhatian. Tapi yang ini perhatiannya emang bener perhatian, bukan semata-mata modus, mean, atau median. Perlahan-lahan saya pun menganggapnya seperti saudara.. saudara orang lain.. Beneran, saya menganggapnya seperti saudara, walaupun ada sedikit harapan untuk menjadikan saudaranya menjadi saudara saya juga. If you know what I mean. Pada suatu saat ada sebuah momentum dimana ibu saya bertemu dengan dia. Yang namanya ibu pasti tahu kalo anaknya ada udang di balik bakwan. Akhirnya saya diinterogasi ibu saya. Muka saya disensor jadi siluet item dan suara saya dicempreng-cemprengin. Dan akhirnya saya pun mengaku kalau saya suka sama dia. Ibu saya juga cocok sama dia. Ibu saya pun bilang ingin melihat saya menikah. Melihat kondisi ibu saya yang sakit-sakitan, saya pun berpikir bagaimana jika tahun depan saya menikah saja?

Dengan proses pemikiran yang panjang, saya pun mencoba untuk merencanakan kesiapan saya menikah. Saya menukar uang tabungan saya dengan emas, supaya ada nilai tambahnya. Saya mulai melakukan bisnis investasi, termasuk di bidang properti, saya punya saham dua apartemen di Tennessee, kemudian saya juga memiliki sedikit kepemilikan di Changi Airport, juga di perusahaan listrik dan perusahaan air minum. Kekayaan saya cukup banyak sampai akhirnya bangkrut karena harta saya ditarik oleh bank karena lawan main saya mendapatkan kartu kesempatan, saya juga sempat dimasukkan ke penjara. Namun akhirnya saya bisa keluar karena saya berhasil mendapatkan angka enam dari dadu yang saya kocok. (ini semua bisa anda temukan hanya ada dalam permainan monopoli)

Sayangnya tidak lama kemudian ibu saya meninggal dunia. Seperti halnya manusia biasa, saya pasti sedih, tapi saya berusaha untuk tetap tegar dan ikhlas. Beberapa bulan kemudian saya diberitahu oleh kakak saya, sebelum ibu saya meninggal, ibu saya memberikan cincin emasnya untuk mahar perkawinan saya kelak. Lagi lagi sebagai manusia biasa, saya merasakan haru yang luar biasa. Dan itu membulatkan tekad saya untuk melamarnya tahun depan. Saya pun memutuskan untuk menunda sejenak kuliah saya dan mencari penghasilan. Saya menjual jasa desain arsitektur rumah, dibantu oleh dua asisten saya (padahal saya yang jadi asisten). Lumayan, orang-orang etnis Cina yang berduit itu banyak menghasilkan keuntungan untuk kami. Sayangnya yang namanya pesanan tidak selalu ada tiap hari. Ada kalanya sama sekali tidak ada pekerjaan.

Entah kenapa saya memiliki penglihatan masa depan, bahwa saya akan melihat dia akan menikah dengan orang lain, bukan dengan orangutan. Saya kemudian merenung dan mencoba realistis. Dan ternyata dengan melihat data yang tersedia memang masuk akal. Data yang dimiliki: pertama, dia seorang wanita; kedua, dia sudah mencapai umur ideal untuk menikah ; ketiga, dia memiliki teman laki-laki atau ayahnya punya teman laki-laki atau temannya teman dia memiliki teman laki-laki (kok jadi ribet begini), intinya dia memiliki kemungkinan untuk terkoneksi dengan seorang laki-laki. Saya rasa masuk akal jika kemudian ada laki-laki yang meminangnya. Sekarang kemungkinannya hanya ada dua, ya dan tidak.. Satu bulan kemudian dia lulus sarjana, sedangkan saya lulus sarjoko. Itu menguatkan hipotesis saya..

Empat puluh hari lima belas jam tiga puluh empat menit dua belas koma tiga lima detik (dengan tingkat error 95%) setelah perayaan wisudanya, saya mendapatkan pesan di whatsapp dari nomer yang tidak saya kenal. Saya coba buka ava profilenya, tapi gambarnya tidak terlalu jelas. Tapi dari bahasa yang digunakan saya yakin ini adalah dia.. Ya ternyata memang dia. Kok tumben dia ngirim pesan. Setelah itu kami pun berbincang-bincang ngalor ngidul ngulon ngetan, sampai akhirnya ia berkata, “Bulan —- Aku mau nikah..”

Well,, saya pun terdiam.. Terdiam.. Hanya terdiam.. Kemudian saya ke gudang dan mencari tali tambang, ternyata tidak ada. Saya pun ke dapur dan mengambil pisau, sayangnya tumpul, dan batu asahannya nggak ada. Saya pergi ke warung untuk membeli baygon cair. “Adanya baygon yang batang kang, disimpen di atas tipi aja kang nanti juga cair” kata si penjual. Emangnya lo kira baygon itu es lilin.. Nggak jadi. Dengan lunglai saya pun ke jembatan penyeberangan, tapi setelah di anak tangga ke sebelas saya turun lagi karena saya memang takut ketinggian. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena saya lelah berjalan kaki, saya pun beristirahat di suatu masjid. Saya melihat ada sebotol pembersih lantai. Saya mengambilnya dan menuangkannya ke dalam gelas plastik di depan masjid.. Dengan tangan gemetaran saya mulai meminum cairan itu. Ternyata minum sirup kolang kaling gratis itu menyegarkan. Saya pun membungkus cairan pembersih lantai tadi dan membawanya ke rumah. Saya pun mulai menggosok lantai kamar mandi di rumah..

Bukan saya namanya kalau nggak tegar (jadi nama saya Tegar?), saya berdiri dengan tegap dan gagah walaupun masalah menerpa.. (padahal pas hari itu saya nangis guling-guling). Saya juga bikin lagu yang galau, dibikin sendiri didengerin sendiri tiap hari tanpa bosen. Tapi awal-awal memang begitu sih, wajar. Karena memang waktu yang bisa menyembuhkan luka. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu sekarang saya masih belum bisa move on.. Just Married (walaupun belum) emang lebih menyakitkan daripada “just friend”. Justru menurut saya mah “just friend”itu bagus, karena level pertemanan itu bisa naik sewaktu waktu, tergantung cau di warung. Katanya sih lamanya waktu untuk melupakan seseorang yang kita cintai itu adalah selama kita mencintai orang itu. Jadi kalau saya mencintai dia selama lima tahun, jadi saya perlu waktu lima tahun untuk melupakannya.. Buset, lama bener yak.. Tapi kata pak Mario Tegar, “Jika kita sulit melupakan seseorang, berarti seseorang itu seorang yang istimewa dan luar biasa bagi hidup kita. Dan orang yang lebih istimewa dan luar biasa lah yang dapat membuat kita bisa move on dan melupakan masa lalu. Itu!” | “Mana pak itu itu?” (By the way, pak Mario itu turut andil dalam pemasaran produk rokok di Indonesia, karena “salam super”nya, kenapa nggak “salam sampoerna”, “salam marlboro”? (ASIMH= Awas Status Ini Mah Heureuy)

Oke, saya punya teori lain. Dalam masalah ini cara yang terbaik bukan melupakan, tetapi mengikhlaskan. Kita harus menerima kenyataan, karena mau bagaimanapun Tuhan yang ngatur manusia. Bukan manusia yang ngatur-ngatur Tuhan. Jodoh itu emang aneh. Yang udah deket tiba-tiba menjauh, yang jauh tiba-tiba mendekat.. Yang belasan tahun menjalin cinta akhirnya gagal begitu saja, yang baru kenal satu bulan langsung nikah.. Yang udah mantap bisa aja gagal, yang masih ragu-ragu bisa aja berhasil. Kaya, ganteng, bukan jaminan semuanya bisa mulus-mulus aja.. Jodoh itu top secret, nggak ada yang tahu. So, mumpung jodoh itu nggak ada yang tahu, maka pesan saya untuk para laki-laki jorok jomblo dari orok yang udah mampu untuk menikah cobain aja satu-satu, jangan takut ditolak, karena kita pasti mengalami penolakan, kegagalan, dan kegagalan berikutnya sampai kita menemukan jodoh kita. Ingat, laki-laki sejati itu nggak nembak si cewek, tapi menyatakan cinta kepada ayahnya.. Homo dong? Maksudnya nyatakan kepada ayahnya bahwa kita mencintai si perempuan. Kalo ayahnya udah nggak ada? Ya ke wali yang bertanggung jawab.. jangan ke Fa’ang Wali Band ya..

Tadinya saya ragu-ragu mau nulis ini di blog. Takutnya orang yang diomongin baca.. Tapi persetan lah, mau baca atau nggak juga. Tapi kalo kamu baca ini, aku cuma bercanda kok.. Ini bukan kamu,, beneran deh.. (ketauan banget boongnya). Oke, kalo kamu baca ini,, pesan saya adalah…

Akurapopo..

Itu! Salam kuper!

I’ll always be your best friend forever🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s