Lulus UN, Berani Tanggung Jawab?

Anda lulus UN? Lulus UN bukanlah suatu hal yang sulit saat ini. Saya katakan demikian karena saya pernah mengalaminya. Soal UN tidak terlalu sulit jika dibandingkan dengan tes-tes yang lain, bahkan jika dibandingkan dengan ujian-ujian biasa di sekolah, UN tergolong soal yang mudah. Namun walaupun demikian ada juga kasus seperti ini: “..puluhan sekolah harus mengikuti UN ulang karena terbukti LJK siswa memiliki pola jawaban yang sama dan kebetulan tidak lulus semua..”

Berbagai sarana untuk lulus UN dapat kita temui dengan mudah, sarana bimbel, les privat, pemantapan di sekolah, hingga calo jawaban ujian pun ada. Pelaksanaan UN memang sudah benar, setelah mendapatkan ilmu maka harus diuji apakah ilmu tersebut sudah ok atau belum. Tapi melihat realita sekarang, UN telah menjadi dewa bagi siswa. Siswa telah menjadikan UN sebagai tujuan pokok dari belajar. Tujuan mereka belajar adalah untuk menghadapi UN. Hingga sepertinya UN menjadi topik yang terlalu heboh. Paradigma masyarakat pun menganggap bahwa UN adalah harga mutlak untuk menentukan seseorang itu berpendidikan atau tidak. Sehingga apa yang terjadi? Siswa akan merasa tertekan, dan pikirannya fokus untuk lulus UN.

Pernahkah terlintas di pikiran kita dulu, bahwa kita ingin menjadi seorang inventor? Yang kita pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar mendapat nilai yang baik, bukan bagaimana caranya untuk menemukan sesuatu yang baru. Kita lihat sekarang, sebuah sekolah memiliki presentase kelulusan 100%. Mungkin hal tersebut sudah biasa sekarang, namun apakah mereka bisa mempertanggungjawabkan 100% tersebut? Dari 100% tersebut yang akan lolos dari seleksi alam mungkin kurang dari 10%, atau bahkan 1%. Seharusnya jika siswa yang lulus sampai 90% lebih, maka Indonesia dalam jangka waktu 1 tahun akan menyaingi Jepang, dalam jangka waktu 5 tahun akan menyaingi Amerika Serikat. Tapi sekarang kenyataannya berbanding terbalik.

Jadi, apa benar UN memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia? Tidak juga, karena yang kita lihat itu selalu nilai akhir, bukan proses. Kita lebih suka kulit daripada isi, kita lebih suka kosmetik daripada substansi. Sistem seperti ini akan memproduksi robot-robot muda yang “cerdas” namun tanpa tujuan. Tujuan dari pendidikan adalah menciptakan individu yang berkualitas, kreatif dan mandiri. Kalau dalam game-game strategy, education & science dibutuhkan untuk mendongkrak teknologi dan aset negara. Sedangkan sekarang pendidikan bertujuan untuk bagaimana mendongkrak popularitas individu dan bagaimana caranya mencari makan.

Belajar dengan sungguh-sungguh, memang suatu keharusan. Tapi jangan memfokuskan diri untuk kesuksesan pribadi, tapi tujuan kita adalah bagaimana agar kita menjadi individu yang bermanfaat. Seberapa besar nilai kita mungkin akan dihargai oleh orang lain, tetapi seberapa banyak kita bermanfaat bagi yang lain adalah sesuatu yang lebih berharga dari apapun. So, jika anda lulus UN maka anda sedang menanggung sebuah tanggung jawab, karena kelulusan bukanlah tujuan, melainkan gerbang awal..

Kemerdekaan nasional bukanlah tujuan akhirRakyat yang bebas berkarya adalah puncaknya.” – Sutan Syahrir

One thought on “Lulus UN, Berani Tanggung Jawab?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s